Senin, 02 Desember 2019

observasi perkembangan bahasa anak


Nama : Ajeng Aura Nurlillahi
NIM : A1D117002
Ruang / Semester : R 001/ V
PENDAHULUAN
Bahasa (language) dan bicara (speech) adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Bahasa mencakup setiap bentuk komunikasi yang ditimbulkan oleh pikiran dan perasaan untuk menyampaikan makna kepada orang lain(Hurlock,1988).Dalam bahasa tersebut, diperlukan penggunaan tanda-tanda atau simbul ke dalam sebuah tata bahasa yang berada dalam struktur aturan tertentu. Anak akan mengerti ungkapan seseorang karena melalui perbendaharaan kata yang disampaikan. Akan tetapi, apabila tidak dimiliki sejumlah perbendaraan kata atau kosa kata, yang akan digunakan sebagai elemen berbicara, anak tidak dapat berbicara atau berkata-kata. Dengan demikian, meskipun sarana lain untuk berbicara terpenuhi, jika tidak memiliki kosakata, seseorang/anak tidak dapat berbicara (Tarmansyah, 1966). Jadi, bahasa tidak sama dengan bicara.
PEMBAHASAN

Nama : Humayra Az-Zahra
Tempat/ Tanggal Lahir ; Jambi, 13 Mei 2016
Umur : 3 tahun 7 bulan
            Saya disini melakukan pengamatan pada seorang anak bernama Humayra Az-Zahra atau biasa dipanggil umay, saya melakukan pengamatan selama 30 menit dan mengamati aktivitas yang dilakukan anak tersebut. Dalam kesehariannya anak tersebut menggunakan terkadang menggunakan bahasa Indonesia. Pada Saat itu ia sedang bermain gadget ibunya, dia sedang membuka youtube sambil bernyanyi mengikuti irama dari video youtube yang ditontonnya tersebut. Dia sedikit sedikit mengerti akan bahasa inggris contohnya “ blue : biru, green : hijau, red : merah “ itu semua berkat ia yang suka menonton youtube. Setelah itu dia bermain masak masakan yang ada di rumahnya. Dia terkadang berbicara seolah-olah ia adalah seorang vlogger yang ingin memasak. Ia berkata “ hai teman-teman kali ini adek mau masak” begitulah sekiranya ucapan anak tersebut.  dia suka bernyanyi, sambil bermain pun dia sambil menyanyikan lagulagu yang dia tahu , pada saat itu ia menyanyikan lagu “Jhonny jhonny yes papa “ dalam nyanyianny tersebut walaupun bahasa inggrisnya belum benar tapi dia mengingat nada-nada dari lagu tersebut sehingga tidak terlalu Nampak kalo anak tersebut salah lirik . dia jyga pandai menyanyikan lagu Indonesia contohya lagu “ayah” dia begitu hapal menyanyikan lagu ayah sampai sampai menhayati lirik lagu tersebut, yang terkadang orang dewasa pun belum bisa menghayati lahu tesebut sampai seterharu itu . dia juga jika merasa dirinya bau belum mandi atau dia lagi poop di celana dia selalu berkata “ adek ni bau kakak jangan deket deket adek”. Anak ini juga selalu belajar akan pengetahuan, saat saya amati dia sedang menyanyikan lagu yang melafalkan abjad dari A sampai Z , walaupun pelafalan dalam menyebutkan huruf tersebut masih belum benar tapi ia terus menyanyikan lagu tersebut sampai selesai.
     Ciri khas kalimat yang diucapkan oleh anak usia 3-4 tahun adalah kalimat tanya. Sebab, seiring dengan perkembangan kognitifnya, yaitu memenuhi rasa ingin tahunya yang besar, anak akan senang sekali memulai percakapan dengan kalimat atau kata, “Ada apa?”, “Di mana?”, “Bagaimana?” atau “Kenapa?”. Pada usia ini, anak juga mulai mengembangkan rasa humornya melalui percakapan.
Jika pada usia kira-kira 2 tahun anak berada pada tahap menggabungkan beberapa kata menjadi kalimat pendek, seperti “Ingin makan”, maka pada usia 3-4 tahun kalimat anak sudah hampir lengkap. Misalnya anak dapat mengucapkan “Sasa ingin makan”.  Pada usia ini, perkembangan bahasa anak sangat mengagumkan. Anak mampu menguasai antara 900-1300 kosa kata yang memungkinkannya untuk berkomunikasi dengan orang lain secara efektif. Anak juga sudah dapat menceritakan pengalamannya kepada orang lain.Sekian pemaparan hasil pengamatan saya terhadap anak tersebut.
DAFTAR PUSTAKA


Minggu, 13 Oktober 2019

Artikel Gagap


GAGAP
Oleh :
Ajeng Aura Nurlillahi R 001
Latar Belakang
Bahasa merupakan suatu sistem tanda bunyi yang arbitrer dan telah disepakati serta dipergunakan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri.
Berbahasa merupakan sebuah kebutuhan yang tidak bisa ditinggalkan oleh manusia, karena berbahasa merupakan kegiatan yang hanya bisa dilakukan oleh manusia. Berdasarkan hakikatnya bahasa itu manusiawi, artinya kegiatan berbahasa tidak bisa dilakukan oleh makhluk lain seperti hewan dan tumbuhan (Chaer, 2012: 56-58).
Faktor lingkungan mempengaruhi kegiatan berbahasa seseorang. Seseorang yang tersisih, atau terisolasi dari lingkungan kehidupan masyarakat kemungkinan besar akan menderita gangguan berbahasa dengan berbagai level gangguan. Seseorang yang mendapatkan sedikit stimulus bahasa, akan berpengaruh terhadap kosa kata yang digunakan walaupun ia memiliki piranti kebahasaan yang baik. Faktor lingkungan ini merupakan teori dari aliran behaviorisme yang menghendaki adanya stimulus dan respon dalam pemerolehan bahasa.
Gangguan kegagapan dapat terjadi pada siapa saja. Kegagapan terjadi karena hilangnya konsentrasi si penderita saat berbicara sehingga ia kesulitan untuk mengingat atau mengucapkan kata yang seharusnya ia ucapkan. Gangguan ini dapat terjadi oleh beberapa faktor. Salah satu faktornya adalah karena seringnya menerima bentakan saat masa pembelajaran yang menyebabkan munculnya tekanan mental atau kehilangan rasa percaya diri pada anak saat berbicara.
PEMBAHASAN
Chaer (2009:153) menjelaskan bahwa gagap merupakan suatu kondisi dimana pembicara mengalami kekacauan saat berbicara karena tersendat-sendat, mendadak berhenti, mengulang-ulang suku kata pertama hingga penderita berhasil berbicara hingga selesai. Penderita gagap ini sering kali tidak berhasil mengucapkan suku kata awal, dengan susah payah hanya mampu mengucapkan konsonan atau vokal awalnya saja. Lalu, ia memilih kata lain dan berhasil menyelesaikan kalimat tersebut meskipun dengan susah payah juga.
Penyandang gagap adalah seseorang yang mengalami gangguan pada kemampuan motoriknya. Gerakan-gerakan penyandang gagap sulit untuk dikendalikan. Sekecil apapun gerakan yang muncul, menimbulkan efek pada performa mereka. Menurut Hidayat (2007: 27) gagap merupakan gangguan dalam arus bicara pada anak, yang ditandai dengan adanya pengulangan suara, suku kata atau terjadi bloking (berhenti) dalam bicara.
 Jadi, gagap merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami gangguan berbicara dengan indikasi tersendatnya pengucapan kata-kata atau rangkaian kalimat. Kelainan ini dapat berupa kehilangan ide untuk mengeluarkan kata-kata, pengulangan beberapa suku kata, kesulitan mengeluarkan bunyi pada huruf-huruf tertentu, hingga kegagalan dalam mengeluarkan kata-kata.
Penyebab Gagap
Gagap ini dapat disebabkan faktor psikologis anak atau juga disebabkan kelainan neurologis, yaitu gangguan dalam dominasi cerebral. Untuk mengatasi masalah gagap, dapat dilakukan dengan terapi psikologis, membantu mengatasi masalah anak, dan psikoterapi pada orang tua.
Gagap yang disebabkan faktor psikologis biasanya dialami anak-anak yang mengalami tekanan. Bisa jadi disebakan karena didikan orang tua yang otoriter, keras, bahkan kasar. Gagap psikologis ini akan bertambah parah bila anak mendapat hukuman atau pun perlakuan yang sama di lingkungannya. Misalnya dia ditertawakan temannya, dikagetin atau tiap kali gagap orang tua langsung melotot sambil membentaknya sehingga anak tersebut jadi takut untuk berbicara.
Menurut Chaer (2009:153-154), kegagapan dapat terjadi karena beberapa faktor berikut.
a.         Faktor-faktor stres dalam kehidupan berkeluarga.
b.        Pendidikan anak yang dilakukan secara keras dan kuat dengan membentak-bentak serta tidak mengizinkan anak berargumentasi dan membantah.
c.         Adanya kerusakan pada belahan otak (hemisfer) yang dominan.
d.        Faktor neurotik famial.
Menurut saya, gagap lebih banyak disebabkan oleh faktor psikologis dibandingkan fisiologis. Trauma, ketakutan, kecemasan, dan kesedihan merupakan faktor psikologis anak. Dimana jika pada masa kecil anak mengalami hal tersebut maka akan menyebabkan seseorang menjadi gagap sampai dewasa. Misalnya, anak yang kedua orangtuanya sering bertengkar sehingga membuat anak takut, cemas, sedih, dan sering menangis.
Cara Penanganan Gangguan Berbicara Gagap
Cara penanganan gangguan gagap ini bisa dengan melakukan terapi, serta mendapat dukungan dari lingkungan keluarga serta sekitarnya. Jika gagap ini sudah berlangsung lama dari kanak-kanak maka diperlukannya konsultasi dengan seorang ahli baik itu dokter syaraf untuk mengetahui kerusakan yang terdapat pada bagian syaraf tertentu, atau bisa juga konsultasi dengan seorang psikolog untuk mengatasi kecemasan yang dimiliki oleh anak tersebut.
Sebenarnya seseorang dapat berbicara lancar tanpa gangguan apabila ia mengenkoding dan menyusun konsep dahulu dalam pikiran. Hal tersebut dimaksudkan untuk memberikan ancang-ancang terlebih dahulu sebelum berbicara, ancang-ancang tersebut berupa pengulangan dan pematangan mengenai hal-hal yang akan diucapkan. Chairani dan Nurachmi (2005: 18) menjelaskan bahwa para penderita gagap berpikir dengan gerakan menggerakkan kaki, tangan, atau mengerjapkan mata pada saat berbicara dapat membantu mengurangi kegagapannya.
Sumber
Prayascitta,Praba ,dkk , Produksi Kalimat Pada Penyandang Gagap, Di akses di http://jurnal-online.um.ac.id/data/artikel/artikel297ED346464BEBFBC33CF61ED021E2AD.pdf