Senin, 02 Desember 2019

observasi perkembangan bahasa anak


Nama : Ajeng Aura Nurlillahi
NIM : A1D117002
Ruang / Semester : R 001/ V
PENDAHULUAN
Bahasa (language) dan bicara (speech) adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Bahasa mencakup setiap bentuk komunikasi yang ditimbulkan oleh pikiran dan perasaan untuk menyampaikan makna kepada orang lain(Hurlock,1988).Dalam bahasa tersebut, diperlukan penggunaan tanda-tanda atau simbul ke dalam sebuah tata bahasa yang berada dalam struktur aturan tertentu. Anak akan mengerti ungkapan seseorang karena melalui perbendaharaan kata yang disampaikan. Akan tetapi, apabila tidak dimiliki sejumlah perbendaraan kata atau kosa kata, yang akan digunakan sebagai elemen berbicara, anak tidak dapat berbicara atau berkata-kata. Dengan demikian, meskipun sarana lain untuk berbicara terpenuhi, jika tidak memiliki kosakata, seseorang/anak tidak dapat berbicara (Tarmansyah, 1966). Jadi, bahasa tidak sama dengan bicara.
PEMBAHASAN

Nama : Humayra Az-Zahra
Tempat/ Tanggal Lahir ; Jambi, 13 Mei 2016
Umur : 3 tahun 7 bulan
            Saya disini melakukan pengamatan pada seorang anak bernama Humayra Az-Zahra atau biasa dipanggil umay, saya melakukan pengamatan selama 30 menit dan mengamati aktivitas yang dilakukan anak tersebut. Dalam kesehariannya anak tersebut menggunakan terkadang menggunakan bahasa Indonesia. Pada Saat itu ia sedang bermain gadget ibunya, dia sedang membuka youtube sambil bernyanyi mengikuti irama dari video youtube yang ditontonnya tersebut. Dia sedikit sedikit mengerti akan bahasa inggris contohnya “ blue : biru, green : hijau, red : merah “ itu semua berkat ia yang suka menonton youtube. Setelah itu dia bermain masak masakan yang ada di rumahnya. Dia terkadang berbicara seolah-olah ia adalah seorang vlogger yang ingin memasak. Ia berkata “ hai teman-teman kali ini adek mau masak” begitulah sekiranya ucapan anak tersebut.  dia suka bernyanyi, sambil bermain pun dia sambil menyanyikan lagulagu yang dia tahu , pada saat itu ia menyanyikan lagu “Jhonny jhonny yes papa “ dalam nyanyianny tersebut walaupun bahasa inggrisnya belum benar tapi dia mengingat nada-nada dari lagu tersebut sehingga tidak terlalu Nampak kalo anak tersebut salah lirik . dia jyga pandai menyanyikan lagu Indonesia contohya lagu “ayah” dia begitu hapal menyanyikan lagu ayah sampai sampai menhayati lirik lagu tersebut, yang terkadang orang dewasa pun belum bisa menghayati lahu tesebut sampai seterharu itu . dia juga jika merasa dirinya bau belum mandi atau dia lagi poop di celana dia selalu berkata “ adek ni bau kakak jangan deket deket adek”. Anak ini juga selalu belajar akan pengetahuan, saat saya amati dia sedang menyanyikan lagu yang melafalkan abjad dari A sampai Z , walaupun pelafalan dalam menyebutkan huruf tersebut masih belum benar tapi ia terus menyanyikan lagu tersebut sampai selesai.
     Ciri khas kalimat yang diucapkan oleh anak usia 3-4 tahun adalah kalimat tanya. Sebab, seiring dengan perkembangan kognitifnya, yaitu memenuhi rasa ingin tahunya yang besar, anak akan senang sekali memulai percakapan dengan kalimat atau kata, “Ada apa?”, “Di mana?”, “Bagaimana?” atau “Kenapa?”. Pada usia ini, anak juga mulai mengembangkan rasa humornya melalui percakapan.
Jika pada usia kira-kira 2 tahun anak berada pada tahap menggabungkan beberapa kata menjadi kalimat pendek, seperti “Ingin makan”, maka pada usia 3-4 tahun kalimat anak sudah hampir lengkap. Misalnya anak dapat mengucapkan “Sasa ingin makan”.  Pada usia ini, perkembangan bahasa anak sangat mengagumkan. Anak mampu menguasai antara 900-1300 kosa kata yang memungkinkannya untuk berkomunikasi dengan orang lain secara efektif. Anak juga sudah dapat menceritakan pengalamannya kepada orang lain.Sekian pemaparan hasil pengamatan saya terhadap anak tersebut.
DAFTAR PUSTAKA


Minggu, 13 Oktober 2019

Artikel Gagap


GAGAP
Oleh :
Ajeng Aura Nurlillahi R 001
Latar Belakang
Bahasa merupakan suatu sistem tanda bunyi yang arbitrer dan telah disepakati serta dipergunakan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri.
Berbahasa merupakan sebuah kebutuhan yang tidak bisa ditinggalkan oleh manusia, karena berbahasa merupakan kegiatan yang hanya bisa dilakukan oleh manusia. Berdasarkan hakikatnya bahasa itu manusiawi, artinya kegiatan berbahasa tidak bisa dilakukan oleh makhluk lain seperti hewan dan tumbuhan (Chaer, 2012: 56-58).
Faktor lingkungan mempengaruhi kegiatan berbahasa seseorang. Seseorang yang tersisih, atau terisolasi dari lingkungan kehidupan masyarakat kemungkinan besar akan menderita gangguan berbahasa dengan berbagai level gangguan. Seseorang yang mendapatkan sedikit stimulus bahasa, akan berpengaruh terhadap kosa kata yang digunakan walaupun ia memiliki piranti kebahasaan yang baik. Faktor lingkungan ini merupakan teori dari aliran behaviorisme yang menghendaki adanya stimulus dan respon dalam pemerolehan bahasa.
Gangguan kegagapan dapat terjadi pada siapa saja. Kegagapan terjadi karena hilangnya konsentrasi si penderita saat berbicara sehingga ia kesulitan untuk mengingat atau mengucapkan kata yang seharusnya ia ucapkan. Gangguan ini dapat terjadi oleh beberapa faktor. Salah satu faktornya adalah karena seringnya menerima bentakan saat masa pembelajaran yang menyebabkan munculnya tekanan mental atau kehilangan rasa percaya diri pada anak saat berbicara.
PEMBAHASAN
Chaer (2009:153) menjelaskan bahwa gagap merupakan suatu kondisi dimana pembicara mengalami kekacauan saat berbicara karena tersendat-sendat, mendadak berhenti, mengulang-ulang suku kata pertama hingga penderita berhasil berbicara hingga selesai. Penderita gagap ini sering kali tidak berhasil mengucapkan suku kata awal, dengan susah payah hanya mampu mengucapkan konsonan atau vokal awalnya saja. Lalu, ia memilih kata lain dan berhasil menyelesaikan kalimat tersebut meskipun dengan susah payah juga.
Penyandang gagap adalah seseorang yang mengalami gangguan pada kemampuan motoriknya. Gerakan-gerakan penyandang gagap sulit untuk dikendalikan. Sekecil apapun gerakan yang muncul, menimbulkan efek pada performa mereka. Menurut Hidayat (2007: 27) gagap merupakan gangguan dalam arus bicara pada anak, yang ditandai dengan adanya pengulangan suara, suku kata atau terjadi bloking (berhenti) dalam bicara.
 Jadi, gagap merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami gangguan berbicara dengan indikasi tersendatnya pengucapan kata-kata atau rangkaian kalimat. Kelainan ini dapat berupa kehilangan ide untuk mengeluarkan kata-kata, pengulangan beberapa suku kata, kesulitan mengeluarkan bunyi pada huruf-huruf tertentu, hingga kegagalan dalam mengeluarkan kata-kata.
Penyebab Gagap
Gagap ini dapat disebabkan faktor psikologis anak atau juga disebabkan kelainan neurologis, yaitu gangguan dalam dominasi cerebral. Untuk mengatasi masalah gagap, dapat dilakukan dengan terapi psikologis, membantu mengatasi masalah anak, dan psikoterapi pada orang tua.
Gagap yang disebabkan faktor psikologis biasanya dialami anak-anak yang mengalami tekanan. Bisa jadi disebakan karena didikan orang tua yang otoriter, keras, bahkan kasar. Gagap psikologis ini akan bertambah parah bila anak mendapat hukuman atau pun perlakuan yang sama di lingkungannya. Misalnya dia ditertawakan temannya, dikagetin atau tiap kali gagap orang tua langsung melotot sambil membentaknya sehingga anak tersebut jadi takut untuk berbicara.
Menurut Chaer (2009:153-154), kegagapan dapat terjadi karena beberapa faktor berikut.
a.         Faktor-faktor stres dalam kehidupan berkeluarga.
b.        Pendidikan anak yang dilakukan secara keras dan kuat dengan membentak-bentak serta tidak mengizinkan anak berargumentasi dan membantah.
c.         Adanya kerusakan pada belahan otak (hemisfer) yang dominan.
d.        Faktor neurotik famial.
Menurut saya, gagap lebih banyak disebabkan oleh faktor psikologis dibandingkan fisiologis. Trauma, ketakutan, kecemasan, dan kesedihan merupakan faktor psikologis anak. Dimana jika pada masa kecil anak mengalami hal tersebut maka akan menyebabkan seseorang menjadi gagap sampai dewasa. Misalnya, anak yang kedua orangtuanya sering bertengkar sehingga membuat anak takut, cemas, sedih, dan sering menangis.
Cara Penanganan Gangguan Berbicara Gagap
Cara penanganan gangguan gagap ini bisa dengan melakukan terapi, serta mendapat dukungan dari lingkungan keluarga serta sekitarnya. Jika gagap ini sudah berlangsung lama dari kanak-kanak maka diperlukannya konsultasi dengan seorang ahli baik itu dokter syaraf untuk mengetahui kerusakan yang terdapat pada bagian syaraf tertentu, atau bisa juga konsultasi dengan seorang psikolog untuk mengatasi kecemasan yang dimiliki oleh anak tersebut.
Sebenarnya seseorang dapat berbicara lancar tanpa gangguan apabila ia mengenkoding dan menyusun konsep dahulu dalam pikiran. Hal tersebut dimaksudkan untuk memberikan ancang-ancang terlebih dahulu sebelum berbicara, ancang-ancang tersebut berupa pengulangan dan pematangan mengenai hal-hal yang akan diucapkan. Chairani dan Nurachmi (2005: 18) menjelaskan bahwa para penderita gagap berpikir dengan gerakan menggerakkan kaki, tangan, atau mengerjapkan mata pada saat berbicara dapat membantu mengurangi kegagapannya.
Sumber
Prayascitta,Praba ,dkk , Produksi Kalimat Pada Penyandang Gagap, Di akses di http://jurnal-online.um.ac.id/data/artikel/artikel297ED346464BEBFBC33CF61ED021E2AD.pdf



Kamis, 06 Desember 2018

Materi 8

KETERAMPILAN BERBAHASA MEMBACA
Hakikat membaca
Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan penulis melalui media bahasa tulis (Tarigan, 1984:7). Pengertian lain dari membaca adalah suatu proses kegiatan mencocokkan huruf atau melafalkan lambang-lambang bahasa tulis. 
Kridalaksana (1982:105) mengemukakan bahwa dalam kegiatan membaca melibatkan dua hal, yaitu (1) pembaca yang berimplikasi adanya pemahaman dan (2) teks yang berimplikasi adanya penulis.

Syafi’ie (1994:6-7) menyebutkan hakikat membaca adalah: 

  1. Pengembangan keterampilan, mulai dari keterampilan memahami kata-kata, kalimat-kalimat, paragraf-paragraf dalam bacaan sampai dengan memahami secara kritis dan evaluatif keseluruhan isi bacaan. 
  2. Kegiatan visual, berupa serangkaian gerakan mata dalam mengikuti baris-baris tulisan, pemusatan penglihatan pada kata dan kelompok kata, melihat ulang kata dan kelompok kata untuk memperoleh pemahaman terhadap bacaan. 
  3. Kegiatan mengamati dan memahami kata-kata yang tertulis dan memberikan makna terhadap kata-kata tersebut berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah dipunyai. 
  4. Suatu proses berpikir yang terjadi melalui proses mempersepsi dan memahami informasi serta memberikan makna terhadap bacaan. 
  5. Proses mengolah informasi oleh pembaca dengan menggunakan informasi dalam bacaan dan pengetahuan serta pengalaman yang telah dipunyai sebelumnya yang relevan dengan informasi tersebut. 
  6. Proses menghubungkan tulisan dengan bunyinya sesuai dengan sistem tulisan yang digunakan. 
  7. Kemampuan mengantisipasi makna terhadap baris-baris dalam tulisan. Kegatan membaca bukan hanya kegiatan mekanis saja, melainkan merupakan kegiatan menangkap maksud dari kelompok-kelompok kata yang membawa makna.
Dari beberapa butir hakikat membaca tersebut, dapat dikemukakan bahwa membaca pada hakikatnya adalah suatu proses yang bersifat fisik dan psikologis. Proses yang berupa fisik berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual dan merupakan proses mekanis dalam membaca. Proses mekanis tersebut berlanjut dengan proses psikologis yang berupa kegiatan berpikir dalam mengolah informasi. Proses pskologis itu dimulai ketika indera visual mengirimkan hasil pengamatan terhadap tulisan ke pusat kesadaran melalui sistem syaraf. Melalui proses decoding gambar-gambar bunyi dan kombinasinya itu kemudian diidentifikasi, diuraikan, dan diberi makna. Proses decoding berlangsung dengan melibatkan Knowledge of The World dalam skemata yang berupa kategorisasi sejumlah pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan dalam gudang ingatan.

Membaca sebagai proses
 Proses membaca yakni membaca sebagai proses psikologi, membaca sebagai proses sensori, membaca sebagai proses perseptual, membaca sebagai proses perkembangan, dan membaca sebagai proses perkembangan keterampilan.
Sebagai proses psikologi membaca itu perkembangannya akan dipengaruhi oleh hal-hal yang sifatnya psikologi pembaca, seperti intelegensi, usia mental, jenis kelamin, tingkat sosial ekonomi, bahasa, ras, kepribadian, sikap, pertumbuhan fisik, kemampuan persepsi, tingkat kemampuan membaca. Di antara faktor-faktor tersebut menurut Harris (1970), bahwa faktor terpenting dalam masalah kesiapan membaca yaitu intelegensi umum.
Membaca sebagai proses sensoris mengandung pengertian bahwa kegiatan membaca itu dimulai dengan melihat. Stimulus masuk lewat indra penglihatan mata. Setelah dilakukan pemaknaan atau pengucapan terhadapnya. Pernyataan “membaca sebagai proses sensoris” tidak berarti bahwa membaca merupakan proses sensoris semata-mata. Banyak hal yang terlibat dalam proses membaca dan ketidakmampuan membaca bisa disebabkan oleh berbagai faktor yang bisa bekerja sendiri-sendiri atau secara serempak.
 Membaca sebagai proses perseptual mengandung pengertian bahwa dalam membaca merupakan proses mengasosiasikan makna dan interpretasi berdasarkan pengalaman tentang stimulus atau lambang, serta respons yang menghubungkan makna dengan stimulus atau lambang tersebut. Membaca sebagai proses perkembangan mengandung arti bahwa membaca itu pada dasarnya merupakan suatu proses perkembangan yang terjadi sepanjang hayat seseorang. Kita tidak tahu kapan perkembangan mulai dan berakhir. Sedangkan proses membaca sebagai perkembangan keterampilan mengandung arti membaca merupakan sebuah keterampilan berbahasa (language skills) yang sifatnya objektif, bertahap, bisa digeneralisasikan, merupakan perkembangan konsep, pengenalan dan identifikasi, serta merupakan interpretasi mengenai informasi.

Rabu, 05 Desember 2018

materi 12


Pembelajaran Keterampilan Menulis Berbasis Proses Menulis dan Teori Pembolehan Bahasa

Proses Menulis

Menurut Kirszner dan Mandell Proses Menulis  terdiri atas berpenulisan, penyusunan, dan penulisan serta revisi. Langkah penulisan bergerak sejak penantuan materi sampai penentuan topik untuk mendapatkan tesis, kemudian membangkitkan berbagai ide untuk menopang tesis tersebut
Proses menuis terdiri dari : berpenulisan , penulisan draf dan revisi tulisan.

Prinsip-prinsip Proses Menulis :
1.      Perencanaan 
2.      Penulisan draf
3.      Revisi tulisan

Pemerolehan bahasa : teori teori Pemerolehan atau Belajar Bahasa dapat Dimanfaatkan Sebagai Pijakan Yang Mendasari dilaksanakan Pembelajaran Bahasa.

Teori-Teori Pemerolehan Bahasa :
1.      Teori behavioristik
2.      Teori mentalistik
3.      Teori Bialystok

Prinsip- prinsip Pemerolehan bahasa :
Berdasarkan ketiga teori yang telah dijelaskan pada prinsipnya teori-teori itu dapat dijadikan basis atau dasar pijakan dalam pembelajaran keterampilan menulis. Pembelajaran keterampilan Menulis :
1.      Tahap I Prapenulisan
2.      Tahap II Penulisan Draf
3.      Tahap III Revisi Tulisan

Pembelajaran Keterampilan Menulis Berbasis Teori Pemerolehan Bahasa :
1.      Menerapkan prinsip Kuantitas Pengulangan
2.      Menerapkan Prinsip Peniruan
3.      Menerapkan Prinsip Penguatan
4.      Menerapkan Prinsip Potensi Bawaan Anak
5.      Menerapkan Penyediaan Maukan yang Baik

Proses Menulis ( writingprocess) dan Berfotolio :
1.      Pramenulis(prewriting)
2.      Menulis konsep(drafting)
3.      Merevisi (refising)
4.      Mengedit (editing)
5.      Publikasi (publishing )
     Penilaian Bertofolio :  Menurut tierney dkk adalah systematic collections by both student  and teachers atau koleksi atau kumpulan sistematik karya yang dikembangkan oleh siswa dan guru.
      Prosedur Penelitian : Upaya untuk mengembangkan model menulis di SD perlu dilakukan melalui penilitian tindakan kelas. Hal ini sangat mendesak seiring  dengan diberlakukanya KTSP akan terlahir model pembelajaran menulis yang dihasilkan dari pengujian empirik.



Rabu, 26 September 2018

materi 5


KETERAMPILAN BERBAHASA BERBICARA
A.    Konsep Dasar Berbicara

Secara umum, berbicara merupakan proses penuangan gagasan dalam bentuk ujaran-ujaran. Ujaran-ujaran yang muncul merupakan perwujudan dari gagasan yang sebelum berada pada tataran ide. Ujaran yang dimaksud adalah bunyi-bunyi bahasa yang bermakna. Kebermaknaan menjadi suatu keharusan jika bunyi bahasa tersebut ingin dikategorikan sebagai kegiatan berbicara.
Ada beberapa hal yang perlu diungkapkan berkaitan dengan batasan berbicara. Uraian batasan di bawah ini berdasarkan beberapa teori yang dikemukakan para pakar komunikasi.
1)       Berbicara Merupakan Ekspresi Diri
2)      Berbicara Merupakan Kemampuan Mental Motorik
3)      Berbicara Merupakan Sikap Motorik
4)      Berbicara terjadi dalam Konteks Ruang dan Waktu
5)      Berbicara merupakan Keterampilan Berbahasa yang Produktif
Tujuan utama berbicara adalah untuk menginformasikan gagasangagasan pembicara kepada pendengar. Dalam hal ini, Mulyana mengelompokkan tujuan berbicara ke dalam empat tujuan, yaitu tujuan sosial, ekspresif, ritual, dan instrumental (2001: 5-30).
a.       Tujuan sosial
Manusia sebagai makhluk sosial menjadikan kegiatan berbicara sebagai sarana untuk membangun konsep diri, eksistensi diri, kelangsungan hidup, memperoleh kebahagiaan, dan menghindari tekanan serta ketegangan. Dengan bahasa, manusia dapat menunjukkan siapa dirinya. Orang yang tidak berkomunikasi, cenderung tidak memahami siapa dirinya sesungguhnya dan bagaimana peran sebagai makhluk sosial.
b.      Tujuan Ekspresif
Bahasa dapat digunakan untuk mengekspresikan perasaan pembicara kepada orang lain. Ekspresi dalam bentuk bahasa juga dapat berwujud sebagai rasa empati kepada objek yang ada di luar diri pembicara.
c.       Tujuan Ritual
Kegiatan ritual sering menggunakan bahasa sebagai media untuk menyampaikan pesan ritual kepada penganutnya. Dalam perayaan hari besar keagamaan tertentu, banyak simbol keagamaan yang bersifat sakral dituangkan memalui bahasa.  Bahasa yang digunakan untuk kepentingan ritual, tentunya mempunyai perbedaan dengan bahasa yang digunakan dalam kegiatan berbicara seharihari. Bahasa dalam komunikasi ritual merupakan bahasa yang sudah baku.
d.      Tujuan Instrumental
Dalam tujuan instrumen ini, kegiatan berbicara digunakan sebagai alat untuk memperoleh sesuatu. Sesuatu di sini dapat berupa pekerjaan, jabatan, atau hal-hal lainnya
            Pengelompokan berbicara dapat dilakukan dengan cara yang berbeda, tergantung dasar yang digunakan. Pengelompokan berbicara sedikitnya dapat dilakukan berdasarkan tiga hal, yaitu situasi, keterlibatan pelaku, dan alur pembicaraan.
            Berdasarkan situasi, berbicara dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis, yaitu a. berbicara formal, yaitu kegiatan berbicara yang terikat pada aturanaturan, baik aturan yang berkaitan dengan tatakrama maupun kebahasaan. b. berbicara nonformal, yaitu kegiatan berbicara yang tidak terlalu terikat pada aturan-aturan, kadang-kadang berlangsung secara spontan dan tanpa perencanaan.
            Berdasarkan keterlibatan pelakunya, berbicara dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis, yaitu berbicara individual, yaitu kegiatan berbicara yang dilakukan oleh seorang pelaku pembicara, misalnya pidato. Berbicara kelompok, yaitu kegiatan berbicara yang melibatkan banyak pelaku pembicara, misalnya diskusi dan debat.
            Berdasarkan alur pembicaraannya, berbicara dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu berbicara monologis, yaitu kegiatan berbicara yang dilakukan searah. Pesan yang disampaikan pembicara tidak memerlukan respons dari pendengar, misalnya pidato dan membaca puisi. Berbicara dialogis, yaitu kegiatan berbicara yang dilakukan secara dua arah. Pesan yang disampaikan pembicara memerlukan respons dari pendengar.
KAITAN BERBICARA DENGAN KETERAMPILAN BERBAHASA LAINNYA
1.      Hubungan Berbicara dengan Menyimak
menyimak, dapat dipadukan dengan kemampuan berbicara. Simakan diungkapkan kembali dalam bentuk keterampilan berbicara oleh penyimak. Dalam hal ini, kualitas berbicara dapat dijadikan tolok ukur kemampuan menyimak seseorang.
2.      Hubungan Berbicara dengan Membaca
 Kemampuan berbahasa lainnya yang erat kaitannya dengan berbicara adalah membaca. Membaca merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat pemahaman. Untuk memahami sesuatu dapat dilakukan dengan proses membaca.
3.      Hubungan Berbicara dengan Menulis
Berbicara bukan merupakan keterampilan berbahasa yang berdiri sendiri, melainkan keterampilan yang didukung kemampuan lainnya, termasuk menulis.

B.     Berbicara sebagai Proses
Proses berbicara dimulai dari pembicara menyampaikan pesan. Melalui media, pesan tersebut diterima oleh pendengar. Dalam berbicara monologis, proses berbicara berakhir pada pendengar. Pembicara menyampaikan pesan dan berakhir ketika pendengar dapat menerima dan memaknai pesan tersebut.
Dalam berbicara dialogis, pendengar memberikan respons kepada pembicara sebagai reaksi dari pesan yang disampaikan pembicara. Dalam hal ini, antara pembicara dan pendengar mempunyai hubungan resiprokal. Artinya, antara pembicara dan pendengar mempunyai peran silih berganti. Pembicara mempunyai peran ganda. Satu saat berperan sebagai pembicara, saat lain harus berperan sebagai pendengar. Begitu pun yang terjadi dengan pendengar.

TAHAP-TAHAP DALAM BERBICARA

1.      Persiapan
Pada tahap persiapan ini ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh seorang pembicara, yaitu penentuan topik, penentuan tujuan, pengumpulan referensi, penyusunan kerangka, dan berlatih.
2.      Pelaksanaan Kegiatan Berbicara
Secara umum, pelaksanaan kegiatan berbicara dapat dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu:
a. Pembuka
b. Pembahasan Pokok
 c. Penutup
3.      Evaluasi

materi 4


REFLEKSI

Menurut saya suasana kelas saat itu tidak kondusif dikarenakan hari yang sudah terlalu sore sehingga banyak dari kami yang tidak memperhatikan sang pemateri .Pemateri pun terkadang tidak bisa membuat suasana kelas menjadi menarik, presentasi dari pemateri pun tidak dapat mengatur suara peserta atau audience, sang pemateri sesekali membuat sebuah lelucon untuk menarik perhatian peserta agar tertarik untuk melihat simulasi pengajaran yang dilakukannya .

Tapi dibalik itu semua saya mendapatkan ilmu yang bermanfaat yaitu bagaimana membuat media yang menarik untuk mengajar , cara mengajar yang menarik untuk mengajar anak agar tak mudah bosan dan banyak lagi yang saya dapat .

materi 3


Strategi Pembelajaran Menyimak
1.      Pengertian
Strategi merupakan suatu seni merancang kegiatan proses pembelajaran. Strategi pembelajaran bahasa adalah tindakan pengajar melaksanakan rencana mengajar bahasa. Sedangkan strategi pembelajaran keterampilan menyimak adalah seni merancang tindakan pelaksanaan proses pembelajaran mengenai kemampuan menginformasikan kembali pemahamannya melalui keterampilan berbicara maupun menulis.
2.      Tujuan Pembelajaran Menyimak
Dapat dibedakan dua aspek tujuan menyimak, yaitu persepsi dan reseftif. Persepsi adalah ciri kognitif dari proses mendengarkan yang didasarkan pada pemahaman pengetahuan tentang kaidah-kaidah kebahasaan. Reseftif adalah pemahaman pesan atau penafsiran pesan yang dikehendaki pembicara.( Iskandarwassid, hal.230)
Tujuan pembelajaran menyimak dibagi menjadi dua bagian, pertama menyimak umum dan menyimak kritis (Iskandarwassid, hal.237.-239)
a. Menyimak umum:
1) Mengingat rincian-rincian penting secara tepat mengenai ilmu pengetahuan khusus
2) Mengingat urutan-urutan sederhana atau kata-kata dan gagasan.
3) Mengikuti pengarahan-pengarahan lisan.
4) Memparafrase suatu pesan lisan sebagai suatu pemahaman melalui penerjemahan.
5) Mengikuti suatu urutan: (a) pengembangan plot, (b) pengembangan watak/pelaku cerita, dan (c) argumentasi pembicara.
6) Memahami makna denotatif kata-kata.
7) Memahami makna konotatif kata-kata.
8) Memahamimakna kata-kata melalui konteks percakapan (pemahaman melalui perjemahan dan penafsiran).
9) Mendengarkan untuk mencatat rincian-rincian penting
10) Mendegarkan untuk mencatat gagasan utama.
11) Menjawab dan merumuskan pertanyaan-pertanyaan
12) Mengidentifikasi gagasan utama dan meringkas dalam pengertian mengombinasikan dan mensintesiskan tentang siapa,apa, kapan, di mana dan mengapa.
13) Memahami hubungan antara gagasan dan organisasi yang cukup baik untuk menentukan apa yang bia terjadi beriutnya.
14) Menghubungkan materi yang diucapkan secara lisan dengan pengalaman sebelumnya.
15) Mendengar untuk alasan kesenangan dan respons emosional.
b. Menyimak secara kritis:
1) Membedakan fakta dari khayalan menurut kriteria tertentu.
2) Menentukan validitas dan ketepatan gagasan utama, aegumen-argumen, dan hipotesis.
3) Membedakan pertanyaan-pertanyaan yang didukung dengan bukti-bukti yang tepat dari opini dan penilaian serta mengevaluasinya.
4) Memeriksa, membandingkan, dan mengkontraskan gagasan dan menyimpulkan pembicaraan, misalnya mengenai ketetapan dan kessuaian suatu deskripsi.
5) Mengevaluasi kesalahan-kesalahan, seperti analogi yang salah dan gagal dalam menyajikan contoh.
6) Mengenal dan menentukan pengaruh-pengaruh berbagai alat yang dipakai oleh pembicara untuk mempengaruhi pendengar, misalnya musik, intonasi suara.
7) Melacak dan mengevaluasi bias dan prasangka buruk dari pembicara atau dari suatu sudut pandang tertentu.
8) Mengevaluasi kualifikasi pembicara
9) Merencanakan evaluasi dan mencoba menerapkan suatu situasi yang baru.

3.      Proses Kegiatan Menyimak
Proses kegiatan menyimak menurut Brown (1995) terdapat delapan proses dalam kegiatan menyimak, yakni: 1) Pendengar memproses raw speech an menyimpan image darinya dalam short term memory. Image ini berisi frase, klausa tanda-tanda baca,intonasi, dan pola-pola tekanan kata dari suatu rangkaian pembicaraan yang ia dengar. 2) Pendengar menentukan tife dalam setiap peristiwa pembicaraan yang sedang diproses. 3) Pendengar mencari maksud dan tujuan pembicara dengan mempertimbangkan bentuk dan jenis pembicaraan, konteks dan isi. 4) Pendengar me-recall latar belakang informasi (melalui skema yang ia miliki) sesuai dengan konteks subjek masalah yang ada. 5) Pendengar mencari arti literal dari pesan yang ia dengar. Hal ini melibatkan kegiatan interpretasi semantik. 6) Pendengar menentukan arti yang dimaksud. 7) pendengar mempertimbangkan apakah informasi yang ia terima harus disimpan di dalam memorinya atau ditunda, 8) Pendengar menghapus bentuk pesan-pesan yang telah ia terima. Pada dasarnya 99% kata-kata dan frase, dan kalimat yang diterima akan menghilang dan terlupakan.

4.      Strategi Pembelajaran Menyimak
Nunan berpendapat bahwa untuk mengembangkan pendekatan yang tepat dalam kemampuan mengajar bahasa pertama penting dan perlu untuk mengerti dasar mendengarkan. Dua tipe mendengarkan dapat diidentifikasikan: proses the bottom-up dan the up-down. Proses bottom-up memegang bahwa mendengarkan adalah proses pengolahan data linear. Komprehensi menekankan pada tingkatan bahwa pendengar sukses menguraikan text yang diucapkan. Model mendengar top-down, kontras, menyangkut para pendengar dalam keaktifan membangun makna berdasarkan pada dugaan, penarikan kesimpulan, tujuan, dan pengetahuan relevan lainnya. Data bahasa disajikan sebagai isyarat-isyarat untuk mengaktifkan proses top-down ini. Dalam mengajar mendengarkan, Nunan menganjurkan bahwa kita mendesain aktivitas yang mengajarkan keterampilan dalam proses bottom-up dan top-down sebagaimana mereka memainkan peran yang penting, tetapi berbeda, dalam mendengarkan.
Field, menguji format yang umum digunakan dalam pengajaran mendengarkan, salah satunya termasuk tiga tahap dalam aktivitas mendengarkan: pre-listening, listening, dan post-listening. Ia menunjuk batasan aktivitas yang sering digunakan dalam point-point berbeda dalam suatu bahasan, materi-materi dan pengajaran sering cenderung untuk menguji menyimak daripada mengajarkannya dan tidak mempraktikkan bermacam menyimak yang ada pada kehidupan nyata. Field menganjurkan penggunaan preset questions, penggunaan aktivitas mendengarkan berdasarkan latihan, fokus pada strategi-strategi, dan penggunaan material-material autentik yang lebih baik dan menunjuk bagaimana rekomendasirekomendasi ini mempengaruhi tiga bagian menyimak dalam pelajaran.
Lam menunjukkan bahwa banyak materi listening ESL gagal untuk menyediakan contoh-contoh kemampuan berbicara bawaan sejak perlengkapan biasa digunakan oleh pembicara, seperti pengisi, fragmen-fragmen, dan alat pengganti, sering dihilangkan. Dia menggambarkan cara-cara yang mana pelajar dapat mengembangkan kewaspadaan dlm sintaksis, dan pengaturan dlm percakapan untuk memfasilitasikan kemampuan mereka untuk memproses teks yg 8 diucapkan. Aktivitas-aktivitas ini mengintegrasi baik listening maupun speaking mencoba untuk mempersiapkan pelajar untuk menghadapi tuntutan komunikasi dunia nyata