GAGAP
Oleh :
Ajeng Aura Nurlillahi R 001
Latar Belakang
Bahasa
merupakan suatu sistem tanda bunyi yang arbitrer dan telah disepakati serta dipergunakan
oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama, berkomunikasi,
dan mengidentifikasi diri.
Berbahasa
merupakan sebuah kebutuhan yang tidak bisa ditinggalkan oleh manusia, karena
berbahasa merupakan kegiatan yang hanya bisa dilakukan oleh manusia.
Berdasarkan hakikatnya bahasa itu manusiawi, artinya kegiatan berbahasa tidak
bisa dilakukan oleh makhluk lain seperti hewan dan tumbuhan (Chaer, 2012:
56-58).
Faktor
lingkungan mempengaruhi kegiatan berbahasa seseorang. Seseorang yang tersisih,
atau terisolasi dari lingkungan kehidupan masyarakat kemungkinan besar akan
menderita gangguan berbahasa dengan berbagai level gangguan. Seseorang yang
mendapatkan sedikit stimulus bahasa, akan berpengaruh terhadap kosa kata yang
digunakan walaupun ia memiliki piranti kebahasaan yang baik. Faktor lingkungan
ini merupakan teori dari aliran behaviorisme yang menghendaki adanya stimulus
dan respon dalam pemerolehan bahasa.
Gangguan kegagapan dapat terjadi pada
siapa saja. Kegagapan terjadi karena hilangnya konsentrasi si penderita saat
berbicara sehingga ia kesulitan untuk mengingat atau mengucapkan kata yang
seharusnya ia ucapkan. Gangguan ini dapat terjadi oleh beberapa faktor. Salah
satu faktornya adalah karena seringnya menerima bentakan saat masa pembelajaran
yang menyebabkan munculnya tekanan mental atau kehilangan rasa percaya diri
pada anak saat berbicara.
PEMBAHASAN
Chaer
(2009:153) menjelaskan bahwa gagap merupakan suatu kondisi dimana pembicara
mengalami kekacauan saat berbicara karena tersendat-sendat, mendadak berhenti,
mengulang-ulang suku kata pertama hingga penderita berhasil berbicara hingga
selesai. Penderita gagap ini sering kali tidak berhasil mengucapkan suku kata
awal, dengan susah payah hanya mampu mengucapkan konsonan atau vokal awalnya
saja. Lalu, ia memilih kata lain dan berhasil menyelesaikan kalimat tersebut
meskipun dengan susah payah juga.
Penyandang
gagap adalah seseorang yang mengalami gangguan pada kemampuan motoriknya.
Gerakan-gerakan penyandang gagap sulit untuk dikendalikan. Sekecil apapun gerakan
yang muncul, menimbulkan efek pada performa mereka. Menurut Hidayat (2007: 27)
gagap merupakan gangguan dalam arus bicara pada anak, yang ditandai dengan
adanya pengulangan suara, suku kata atau terjadi bloking (berhenti) dalam
bicara.
Jadi,
gagap merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami gangguan berbicara
dengan indikasi tersendatnya pengucapan kata-kata atau rangkaian kalimat.
Kelainan ini dapat berupa kehilangan ide untuk mengeluarkan kata-kata,
pengulangan beberapa suku kata, kesulitan mengeluarkan bunyi pada huruf-huruf
tertentu, hingga kegagalan dalam mengeluarkan kata-kata.
Penyebab Gagap
Gagap
ini dapat disebabkan faktor psikologis anak atau juga disebabkan kelainan
neurologis, yaitu gangguan dalam dominasi cerebral. Untuk mengatasi masalah
gagap, dapat dilakukan dengan terapi psikologis, membantu mengatasi masalah
anak, dan psikoterapi pada orang tua.
Gagap
yang disebabkan faktor psikologis biasanya dialami anak-anak yang mengalami
tekanan. Bisa jadi disebakan karena didikan orang tua yang otoriter, keras,
bahkan kasar. Gagap psikologis ini akan bertambah parah bila anak mendapat
hukuman atau pun perlakuan yang sama di lingkungannya. Misalnya dia
ditertawakan temannya, dikagetin atau tiap kali gagap orang tua langsung
melotot sambil membentaknya sehingga anak tersebut jadi takut untuk berbicara.
Menurut Chaer (2009:153-154), kegagapan
dapat terjadi karena beberapa faktor berikut.
a.
Faktor-faktor
stres dalam kehidupan berkeluarga.
b.
Pendidikan
anak yang dilakukan secara keras dan kuat dengan membentak-bentak serta tidak
mengizinkan anak berargumentasi dan membantah.
c.
Adanya
kerusakan pada belahan otak (hemisfer) yang dominan.
d.
Faktor
neurotik famial.
Menurut saya, gagap lebih banyak disebabkan oleh
faktor psikologis dibandingkan fisiologis. Trauma, ketakutan, kecemasan, dan
kesedihan merupakan faktor psikologis anak. Dimana jika pada masa kecil anak
mengalami hal tersebut maka akan menyebabkan seseorang menjadi gagap sampai
dewasa. Misalnya, anak yang kedua orangtuanya sering bertengkar sehingga
membuat anak takut, cemas, sedih, dan sering menangis.
Cara
Penanganan Gangguan Berbicara Gagap
Cara
penanganan gangguan gagap ini bisa dengan melakukan terapi, serta mendapat
dukungan dari lingkungan keluarga serta sekitarnya. Jika gagap ini sudah berlangsung
lama dari kanak-kanak maka diperlukannya konsultasi dengan seorang ahli baik
itu dokter syaraf untuk mengetahui kerusakan yang terdapat pada bagian syaraf
tertentu, atau bisa juga konsultasi dengan seorang psikolog untuk mengatasi
kecemasan yang dimiliki oleh anak tersebut.
Sebenarnya
seseorang dapat berbicara lancar tanpa gangguan apabila ia mengenkoding dan
menyusun konsep dahulu dalam pikiran. Hal tersebut dimaksudkan untuk memberikan
ancang-ancang terlebih dahulu sebelum berbicara, ancang-ancang tersebut berupa
pengulangan dan pematangan mengenai hal-hal yang akan diucapkan. Chairani dan
Nurachmi (2005: 18) menjelaskan bahwa para penderita gagap berpikir dengan
gerakan menggerakkan kaki, tangan, atau mengerjapkan mata pada saat berbicara
dapat membantu mengurangi kegagapannya.
Sumber
Supend,Deden
Ahmad,dkk ,Analisis Kasus Dan Penyebab
Gangguan Berbahasa (Language Disorders),https://www.google.com/searchclient=opera&q=Deden+Ahmad+Supend%2C+David+Setiadi+%2CAnalisis+Kasus+Dan+Penyebab+Gangguan+Berbahasa(Language+Disorders)%2C&sourceid=opera&ie=UTF-8&oe=UTF-8#
Prayascitta,Praba
,dkk , Produksi Kalimat Pada Penyandang
Gagap, Di akses di http://jurnal-online.um.ac.id/data/artikel/artikel297ED346464BEBFBC33CF61ED021E2AD.pdf
Anggraini,
Anita. Analisis Gangguan Gagap. Di akses di https://www.academia.edu/34024686/ANALISIS_GANGGUAN_GAGAP_Oleh_Anita_Anggraini_NIM_14016028