KETERAMPILAN BERBAHASA BERBICARA
A. Konsep
Dasar Berbicara
Secara umum, berbicara merupakan proses penuangan
gagasan dalam bentuk ujaran-ujaran. Ujaran-ujaran yang muncul merupakan
perwujudan dari gagasan yang sebelum berada pada tataran ide. Ujaran yang
dimaksud adalah bunyi-bunyi bahasa yang bermakna. Kebermaknaan menjadi suatu
keharusan jika bunyi bahasa tersebut ingin dikategorikan sebagai kegiatan
berbicara.
Ada beberapa hal yang perlu diungkapkan berkaitan
dengan batasan berbicara. Uraian batasan di bawah ini berdasarkan beberapa
teori yang dikemukakan para pakar komunikasi.
1) Berbicara Merupakan Ekspresi Diri
2) Berbicara
Merupakan Kemampuan Mental Motorik
3) Berbicara
Merupakan Sikap Motorik
4) Berbicara
terjadi dalam Konteks Ruang dan Waktu
5) Berbicara
merupakan Keterampilan Berbahasa yang Produktif
Tujuan utama berbicara adalah untuk
menginformasikan gagasangagasan pembicara kepada pendengar. Dalam hal ini,
Mulyana mengelompokkan tujuan berbicara ke dalam empat tujuan, yaitu tujuan
sosial, ekspresif, ritual, dan instrumental (2001: 5-30).
a. Tujuan
sosial
Manusia sebagai makhluk
sosial menjadikan kegiatan berbicara sebagai sarana untuk membangun konsep
diri, eksistensi diri, kelangsungan hidup, memperoleh kebahagiaan, dan
menghindari tekanan serta ketegangan. Dengan bahasa, manusia dapat menunjukkan
siapa dirinya. Orang yang tidak berkomunikasi, cenderung tidak memahami siapa
dirinya sesungguhnya dan bagaimana peran sebagai makhluk sosial.
b. Tujuan
Ekspresif
Bahasa dapat digunakan
untuk mengekspresikan perasaan pembicara kepada orang lain. Ekspresi dalam
bentuk bahasa juga dapat berwujud sebagai rasa empati kepada objek yang ada di
luar diri pembicara.
c. Tujuan
Ritual
Kegiatan ritual sering
menggunakan bahasa sebagai media untuk menyampaikan pesan ritual kepada
penganutnya. Dalam perayaan hari besar keagamaan tertentu, banyak simbol
keagamaan yang bersifat sakral dituangkan memalui bahasa. Bahasa yang digunakan untuk kepentingan
ritual, tentunya mempunyai perbedaan dengan bahasa yang digunakan dalam
kegiatan berbicara seharihari. Bahasa dalam komunikasi ritual merupakan bahasa
yang sudah baku.
d. Tujuan
Instrumental
Dalam tujuan instrumen
ini, kegiatan berbicara digunakan sebagai alat untuk memperoleh sesuatu.
Sesuatu di sini dapat berupa pekerjaan, jabatan, atau hal-hal lainnya
Pengelompokan
berbicara dapat dilakukan dengan cara yang berbeda, tergantung dasar yang
digunakan. Pengelompokan berbicara sedikitnya dapat dilakukan berdasarkan tiga
hal, yaitu situasi, keterlibatan pelaku, dan alur pembicaraan.
Berdasarkan
situasi, berbicara dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis, yaitu a. berbicara
formal, yaitu kegiatan berbicara yang terikat pada aturanaturan, baik aturan
yang berkaitan dengan tatakrama maupun kebahasaan. b. berbicara nonformal,
yaitu kegiatan berbicara yang tidak terlalu terikat pada aturan-aturan,
kadang-kadang berlangsung secara spontan dan tanpa perencanaan.
Berdasarkan
keterlibatan pelakunya, berbicara dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis, yaitu
berbicara individual, yaitu kegiatan berbicara yang dilakukan oleh seorang
pelaku pembicara, misalnya pidato. Berbicara kelompok, yaitu kegiatan berbicara
yang melibatkan banyak pelaku pembicara, misalnya diskusi dan debat.
Berdasarkan
alur pembicaraannya, berbicara dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu
berbicara monologis, yaitu kegiatan berbicara yang dilakukan searah. Pesan yang
disampaikan pembicara tidak memerlukan respons dari pendengar, misalnya pidato
dan membaca puisi. Berbicara dialogis, yaitu kegiatan berbicara yang dilakukan
secara dua arah. Pesan yang disampaikan pembicara memerlukan respons dari
pendengar.
KAITAN BERBICARA DENGAN
KETERAMPILAN BERBAHASA LAINNYA
1.
Hubungan Berbicara dengan Menyimak
menyimak,
dapat dipadukan dengan kemampuan berbicara. Simakan diungkapkan kembali dalam
bentuk keterampilan berbicara oleh penyimak. Dalam hal ini, kualitas berbicara
dapat dijadikan tolok ukur kemampuan menyimak seseorang.
2.
Hubungan Berbicara dengan Membaca
Kemampuan berbahasa lainnya yang erat
kaitannya dengan berbicara adalah membaca. Membaca merupakan keterampilan
berbahasa yang bersifat pemahaman. Untuk memahami sesuatu dapat dilakukan
dengan proses membaca.
3.
Hubungan Berbicara dengan Menulis
Berbicara
bukan merupakan keterampilan berbahasa yang berdiri sendiri, melainkan
keterampilan yang didukung kemampuan lainnya, termasuk menulis.
B. Berbicara
sebagai Proses
Proses
berbicara dimulai dari pembicara menyampaikan pesan. Melalui media, pesan
tersebut diterima oleh pendengar. Dalam berbicara monologis, proses berbicara
berakhir pada pendengar. Pembicara menyampaikan pesan dan berakhir ketika
pendengar dapat menerima dan memaknai pesan tersebut.
Dalam berbicara
dialogis, pendengar memberikan respons kepada pembicara sebagai reaksi dari
pesan yang disampaikan pembicara. Dalam hal ini, antara pembicara dan pendengar
mempunyai hubungan resiprokal. Artinya, antara pembicara dan pendengar
mempunyai peran silih berganti. Pembicara mempunyai peran ganda. Satu saat
berperan sebagai pembicara, saat lain harus berperan sebagai pendengar. Begitu
pun yang terjadi dengan pendengar.
TAHAP-TAHAP DALAM
BERBICARA
1. Persiapan
Pada tahap persiapan
ini ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh seorang pembicara, yaitu
penentuan topik, penentuan tujuan, pengumpulan referensi, penyusunan kerangka,
dan berlatih.
2. Pelaksanaan
Kegiatan Berbicara
Secara umum,
pelaksanaan kegiatan berbicara dapat dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu:
a. Pembuka
b. Pembahasan Pokok
c. Penutup
3. Evaluasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar