Rabu, 26 September 2018

materi 5


KETERAMPILAN BERBAHASA BERBICARA
A.    Konsep Dasar Berbicara

Secara umum, berbicara merupakan proses penuangan gagasan dalam bentuk ujaran-ujaran. Ujaran-ujaran yang muncul merupakan perwujudan dari gagasan yang sebelum berada pada tataran ide. Ujaran yang dimaksud adalah bunyi-bunyi bahasa yang bermakna. Kebermaknaan menjadi suatu keharusan jika bunyi bahasa tersebut ingin dikategorikan sebagai kegiatan berbicara.
Ada beberapa hal yang perlu diungkapkan berkaitan dengan batasan berbicara. Uraian batasan di bawah ini berdasarkan beberapa teori yang dikemukakan para pakar komunikasi.
1)       Berbicara Merupakan Ekspresi Diri
2)      Berbicara Merupakan Kemampuan Mental Motorik
3)      Berbicara Merupakan Sikap Motorik
4)      Berbicara terjadi dalam Konteks Ruang dan Waktu
5)      Berbicara merupakan Keterampilan Berbahasa yang Produktif
Tujuan utama berbicara adalah untuk menginformasikan gagasangagasan pembicara kepada pendengar. Dalam hal ini, Mulyana mengelompokkan tujuan berbicara ke dalam empat tujuan, yaitu tujuan sosial, ekspresif, ritual, dan instrumental (2001: 5-30).
a.       Tujuan sosial
Manusia sebagai makhluk sosial menjadikan kegiatan berbicara sebagai sarana untuk membangun konsep diri, eksistensi diri, kelangsungan hidup, memperoleh kebahagiaan, dan menghindari tekanan serta ketegangan. Dengan bahasa, manusia dapat menunjukkan siapa dirinya. Orang yang tidak berkomunikasi, cenderung tidak memahami siapa dirinya sesungguhnya dan bagaimana peran sebagai makhluk sosial.
b.      Tujuan Ekspresif
Bahasa dapat digunakan untuk mengekspresikan perasaan pembicara kepada orang lain. Ekspresi dalam bentuk bahasa juga dapat berwujud sebagai rasa empati kepada objek yang ada di luar diri pembicara.
c.       Tujuan Ritual
Kegiatan ritual sering menggunakan bahasa sebagai media untuk menyampaikan pesan ritual kepada penganutnya. Dalam perayaan hari besar keagamaan tertentu, banyak simbol keagamaan yang bersifat sakral dituangkan memalui bahasa.  Bahasa yang digunakan untuk kepentingan ritual, tentunya mempunyai perbedaan dengan bahasa yang digunakan dalam kegiatan berbicara seharihari. Bahasa dalam komunikasi ritual merupakan bahasa yang sudah baku.
d.      Tujuan Instrumental
Dalam tujuan instrumen ini, kegiatan berbicara digunakan sebagai alat untuk memperoleh sesuatu. Sesuatu di sini dapat berupa pekerjaan, jabatan, atau hal-hal lainnya
            Pengelompokan berbicara dapat dilakukan dengan cara yang berbeda, tergantung dasar yang digunakan. Pengelompokan berbicara sedikitnya dapat dilakukan berdasarkan tiga hal, yaitu situasi, keterlibatan pelaku, dan alur pembicaraan.
            Berdasarkan situasi, berbicara dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis, yaitu a. berbicara formal, yaitu kegiatan berbicara yang terikat pada aturanaturan, baik aturan yang berkaitan dengan tatakrama maupun kebahasaan. b. berbicara nonformal, yaitu kegiatan berbicara yang tidak terlalu terikat pada aturan-aturan, kadang-kadang berlangsung secara spontan dan tanpa perencanaan.
            Berdasarkan keterlibatan pelakunya, berbicara dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis, yaitu berbicara individual, yaitu kegiatan berbicara yang dilakukan oleh seorang pelaku pembicara, misalnya pidato. Berbicara kelompok, yaitu kegiatan berbicara yang melibatkan banyak pelaku pembicara, misalnya diskusi dan debat.
            Berdasarkan alur pembicaraannya, berbicara dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu berbicara monologis, yaitu kegiatan berbicara yang dilakukan searah. Pesan yang disampaikan pembicara tidak memerlukan respons dari pendengar, misalnya pidato dan membaca puisi. Berbicara dialogis, yaitu kegiatan berbicara yang dilakukan secara dua arah. Pesan yang disampaikan pembicara memerlukan respons dari pendengar.
KAITAN BERBICARA DENGAN KETERAMPILAN BERBAHASA LAINNYA
1.      Hubungan Berbicara dengan Menyimak
menyimak, dapat dipadukan dengan kemampuan berbicara. Simakan diungkapkan kembali dalam bentuk keterampilan berbicara oleh penyimak. Dalam hal ini, kualitas berbicara dapat dijadikan tolok ukur kemampuan menyimak seseorang.
2.      Hubungan Berbicara dengan Membaca
 Kemampuan berbahasa lainnya yang erat kaitannya dengan berbicara adalah membaca. Membaca merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat pemahaman. Untuk memahami sesuatu dapat dilakukan dengan proses membaca.
3.      Hubungan Berbicara dengan Menulis
Berbicara bukan merupakan keterampilan berbahasa yang berdiri sendiri, melainkan keterampilan yang didukung kemampuan lainnya, termasuk menulis.

B.     Berbicara sebagai Proses
Proses berbicara dimulai dari pembicara menyampaikan pesan. Melalui media, pesan tersebut diterima oleh pendengar. Dalam berbicara monologis, proses berbicara berakhir pada pendengar. Pembicara menyampaikan pesan dan berakhir ketika pendengar dapat menerima dan memaknai pesan tersebut.
Dalam berbicara dialogis, pendengar memberikan respons kepada pembicara sebagai reaksi dari pesan yang disampaikan pembicara. Dalam hal ini, antara pembicara dan pendengar mempunyai hubungan resiprokal. Artinya, antara pembicara dan pendengar mempunyai peran silih berganti. Pembicara mempunyai peran ganda. Satu saat berperan sebagai pembicara, saat lain harus berperan sebagai pendengar. Begitu pun yang terjadi dengan pendengar.

TAHAP-TAHAP DALAM BERBICARA

1.      Persiapan
Pada tahap persiapan ini ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh seorang pembicara, yaitu penentuan topik, penentuan tujuan, pengumpulan referensi, penyusunan kerangka, dan berlatih.
2.      Pelaksanaan Kegiatan Berbicara
Secara umum, pelaksanaan kegiatan berbicara dapat dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu:
a. Pembuka
b. Pembahasan Pokok
 c. Penutup
3.      Evaluasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar