HAKIKAT
KETERAMPILAN BERBAHASA
·
Pengertian dan Manfaat Keterampilan
Berbahasa
Keterampilan
berbahasa ialah Proses Komunikasi dimana ada pengirim pesan yang akan menyampaikan,
dan memformulasikannya dalam wujud lambang-lambang berupa bunyi/tulisan, proses
demikian disebut encoding. Kemudian
ada sang penerjemah yang menerjemahkan lambang-lambang berupa bunyi/tulisan
tersebut menjadi makna sehingga pesan tersebut dapat diterima secara utuh,
proses itu disebut decoding. Jadi,
kedua belah pihak yang terlibat dalam komunikasi tersebut sama-sama memiliki
keterampilan.
Keterampilan
berbahasa dapat dikelompokkan ke dalam 2 kategori, yakni aspek reseptif dan
aspek produktif. Aspek reseptif bersifat penerimaan atau penyerapan Sedangkan
aspek produktif bersifat pengeluaran atau memproduksikan bahasa, baik lisan
maupun tertulis
Keterampilan
berbahasa bermanfaat dalam melakukan Interaksi komunikasi dalam masyarakat.
Banyak pofesi dalam kehidupan bermasyarakat yang keberhasilannya, antara lain
yang bergantung pada tingkat keterampilan berbahasa yang dimilikinya, misalnya
profesi dibidang masyarakat, pemasaran/penjualan, politik, hukum(jaksa, hakim,
pengacara), dll.
·
Aspek-Aspek Keterampilan Berbahasa
a. Mendengarkan/Menyimak
Mendengarkan adalah keterampilan memahami bahasa lisan yang bersifat
reseptif. Pada kegiatan mendengar tidak tercakup unsur kesengajaan,
konsentrasi, atau bahkan pemahaman. Sementara pada kegiatan mendengarkan
terdapat unsur-unsur kesengajaan, dilakukan dengan penuh perhatian dan
konsentrasi untuk memperoleh pemahaman yang memadai.
b. Berbicara
Dalam keterampilan berbicara dikenal tiga jenis situasi berbicara, yaitu
interaktif, semiinteraktif, dan noninteraktif. Situasi-situasi berbicara
interaktif, misalnya terjadi pada percakapan secara tatap muka dan berbicara
melalui telepon. Kemudian semiinteraktif, misalnya dalam berpidato di hadapan
umum, kampanye, khutbah/ceramah, dan lain-lain, baik yang dilakukan melalui
tatap muka secara langsung namun berlangsung secara satu arah. Situasi
berbicara bersifat noninteraktif jika pembicaraan dilakukan secara satu arah
dan tidak melalui tatap muka langsung, misalnya berpidato melalui radio atau
televisi.
c.
Membaca
Keterampilan membaca tergolong keterampilan yang bersifat aktif reseptif.
Keterampilan membaca terbagi ke dalam dua klasifikasi, yakni (a) membaca
permulaan, dan (b) membaca lanjutan.
d.
Menulis
Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang bersifat aktif produktif.
Keterampilan menulis diklasifikasikan ke dalam dua kategori, yakni (a) menulis
permulaan dan (b) menulis lanjutan.
·
Keterkaitan Antar Aspek Keterampilan Berbahasa
a.
Hubungan Berbicara dengan Menyimak
Menurut Brooks dalam Tarigan (1994:3), berbicara dan mendengarkan
merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang bersifat langsung. Apabila kita
amati peristiwa-peristiwa komunikasi yang terjadi dalam masyarakat,
b.
Hubungan Menyimak dengan Membaca
Mendengarkan dan membaca sama-sama merupakan keterampilan berbahasa yang
bersifat reseptif. Mendengarkan berkaitan dengan penggunaan bahasa ragam lisan,
sedangkan membaca merupakan aktivitas berbahasa ragam tulis.
c.
Hubungan Membaca dengan Menulis
Membaca maupun menulis merupakan aktivitas berbahasa ragam tulis. Menulis
merupakan kegiatan berbahasa yang bersifat produktif, sedangkan membaca
merupakan kegiatan berbahasa yang bersifat reseptif
d.
Hubungan Menulis dengan Berbicara
Seorang pembicara biasanya diminta menulis sebuah tulisan terlebih dulu.
Kemudian, yang bersangkutan diminta menyajikan itu secara lisan dalam suatu
forum. Selanjutnya, peserta akan menanggapi isi pembicaraan si pembicara
tersebut.Dalam kedua jenis aktivitas berbicara seperti yang dikemukakan di
atas, tampak jelas keterkaitan antara aktivitas menulis dan berbicara. Kegiatan
menulis dilakukan guna mendukung aktivitas berbicara. Subyakto-Nababan
(1993:153) dan Tarigan (1994:10) menjelaskan bahwa baik berbicara maupun
menulis merupakan kegiatan berbahasa yang bersifat produktif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar